PERKEMBANGAN
KURIKULUM PENDIDIKAN NASIONAL
SEJAK AWAL KEMERDEKAAN
MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Bahasa Indonesia Keilmuan
Yang dibina oleh Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd
Oleh
Arga Aditama
209321423354
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FISIKA
November 2009
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan adalah kunci berkesinambungannya peradaban manusia. Perhatian yang penuh terhadap peningkatan mutu pendidikan akan berefek pula terhadap semakin tingginya peradaban manusia. Oleh karena itu, wajib bagi setiap manusia untuk menempuh pendidikan guna mendapatkan pengetahuan sebagai bekal masa depan. Selain itu, dengan pendidikan kita akan bisa bersaing dengan Negara-negara lain yang lebih maju sehingga tidak menjadi negara yang tertinggal.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, pemerintah telah berupaya keras dengan melakukan perombakan – perombakan terhadap kurikulum yang ada. Dari beberapa kali pergantian kurikulum, ternyata masih juga ada kelebihan dan kekurangan. Namun, demi terciptanya pendidikan yang baik, pemerintah selalu mengupayakan penggantian kurikulum.
Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan direncanakan pada tahun 2004. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang penulisan, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
Bagaimana sejarah perkembangan kurikulum pendidikan nasional?
Apa saja kurikulum yang pernah ada di Indonesia sejak tahun 1945?
Apa saja landasan-landasan untuk mengembangkan kurikulum pendidikan nasional?
C. TUJUAN PENULISAN
Mengetahui sejarah perkembangan kurikulum pendidikan nasional.
Mengetahui kurikulum yang pernah ada di Indonesia sejak tahun 1945.
Mengetahui landasan-landasan pengembangan kurikulum.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Perkembangan Kurikulum Pendidikan Nasional
Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan direncanakan pada tahun 2004. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaannya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
B. Kurikulum Yang Pernah Ada Di Indonesia Sejak Tahun 1945
Kurikulum pendidikan Nasional telah mengalami beberapa kali perubahan sejak tahun 1945,antara lain :
Rencana Pelajaran 1947
Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan. Dalam bahasa Belanda, artinya rencana pelajaran, lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). “Perubahan kisi-kisi pendidikan lebih bersifat politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. Yang diutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani (Hartoto, 2008)”.
Rencana Pelajaran Terurai 1952
Kurikulum pendidikan nasional yang kedua adalah Rencana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini lebih merinci pada setiap mata pelajaran. “Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah (Hartoto, 2008)”.
Kurikulum 1968
Pemerintah selalu berusaha menyempurnakan kurikulum pendidikan nasional, dan akhirnya dirubahlah kurikulum sebelumnya menjadi Kurikulum 1968. “Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus (Hartoto, 2008)”.
Kurikulum 1975
Untuk lebih menyempurnakan kurikulum 1968, akhirnya diganti dengan kurikulum 1975 walaupun mendapat banyak kritikan. Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Zaman ini dikenal istilah ‘satuan pelajaran’, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK),materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi (Hartoto, 2008)”.
Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 1975, namun masih mempunyai kelemahan. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).
“Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah (Hartoto, 2008)”.
Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999
Kurikulum 1994 merupakan perpaduan dari kurikulum-kurikulum sebelumnya. Namun perpaduan tujuan dan proses belum berhasil.
Hartoto (2008) menyatakan sebagai berikut,
Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi.
Kurikulum 2004
Kurikulum 2004 atau bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menitik beratkan kepada siswa untuk aktif. Setiap pelajaran diurai berdasarkan kompetensi yang mesti dicapai siswa. Bila target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa. Hartoto (2008) “meski baru diujicobakan, toh di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa, dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. Hasilnya tak memuaskan. Guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum”.
KTSP 2006
Hartoto (2008) menyatakan sebagai berikut,
Secara substansial, pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. Akan tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subjectmatter), yaitu: 1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal. 2. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman. 3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. 4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. 5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
C. Landasan - Landasan Pengembangan Kurikulum
Dalam pengembangan kurikulum ada landasan - landasan yang digunakan. Landasan pengembangan kurikulum merupakan faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan pada pengembangan kurikulum lembaga pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah.
Sofa (2009) menyatakan sebagai berikut,
Secara umum terdapat tiga aspek pokok yang mendasari pengembangan kurikulum tersebut, yaitu: landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan sosiologis.
1. Landasan Filosofis Landasan filosofis berkaitan dengan pentingnya filsafat dalam membina dan mengembangkan kurikulum pada suatu lembaga pendidikan. Filsafat ini menjadi landasan utama bagi landasan lainnya…. Berdasarkan landasan filosofis ini ditentukan tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan bidang studi, dan tujuan instruksional.
2. Landasan Psikologis Landasan psikologis terutama berkaitan dengan psikologi/teori belajar (psychology/theory of learning) dan psikologi perkembangan (developmental psychology). Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana kurikulum itu disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya. Dengan kata lain, psikologi belajar berkenaan dengan penentuan strategi kurikulum. Sedangkan psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi kurikulum yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan taraf perkembangan siswa tersebut.
3. Landasan Sosiologis Landasan sosiologis dijadikan sebagai salah satu aspek yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum karena pendidikan selalu mengandung nilai atau norma yang berlaku dalam masyarakat. Di samping itu, keberhasilan suatu pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya yang menjadi dasar dan acuan bagi pendidikan/kurikulum. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai produk kebudayaan diperlukan dalam pengembangan kurikulum sebagai upaya menyelaraskan isi kurikulum dengan perkembangan dan kemajuan yang terjadi dalam dunia iptek.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian tersebut bisa ditarik beberapa kesimpulan :
Tujuan penggantian kurikulum antara lain :
Meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.
Mendapatkan kurikuylum yang benar-benar cocok.
Tercapainya tujuan pendidikan nasional.
Sebagai alat untuk membantu guru melakukan tugasnya menyampaikan pembelajaran yang menarik minat siswa.
Untuk menghadapi dan mengantisipasi keadaan berikut, yaitu merespons perkembangan ilmu dan teknologi, perubahan sosial di luar sistem pendidikan, memenuhi kebutuhan siswa dan merespons kemajuan-kemajuan dalam pendidikan.
Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945.
Kurikulum merupakan seperangkat rencana pendidikan yang perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat.
B. SARAN
Untuk memperoleh kurikulum yang benar-benar tepat bagi pendidikan Indonesia memang tidaklah mudah. Maka kita tidak boleh berdiam diri melainkan harus selalu berusaha mengembangkan kurikulum sehingga siswa mudah menerima yang diajarkan.
Di sini, yang paling berpengaruh adalah pemerintah yang merupakan penentu kebijakan-kebijakan dalam dunia pendidikan. Pemerintah harus pandai-pandai mengembangkan kurikulum pendidikan nasional. Namun, perubahan kurikulum jangan terlalu sering karena anak didik akan kesulitan untuk adaptasi dengan kurikulum yang sering berganti.
DAFTAR RUJUKAN
Hartoto. 2008. Perjalanan Kurikulum Nasional, (Online), (http://fatamorghana.wordpress.com/category/kurikulum/, diakses 14 November 2009).
Sofa. 2009. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran PKn, (Online), (http://massofa.wordpress.com/2009/11/02/pengembangan-kurikulum-dan-pembelajaran-pkn/, diakses 14 November 2009).
BIOGRAFI
ARGA ADITAMA, dilahirkan di Trenggalek, Jawa Timur pada 28 Desember 1990, dan merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Setelah menamatkan sekolah di TK Dharma Wanita Sukorame lalu melanjutkan sekolah di SD Negeri 1 Sukorame selama 6 tahun. Setelah lulus SD melanjutkan studi di SMP Negeri 1 Pogalan selama 3 tahun. Pada tahun 2009 telah menamatkan pendidikannya di SMA Negeri 1 Trenggalek. Dan sekarang sedang menempuh program Sarjana Pendidikan Fisika di Universitas Negeri Malang.
Prestasi yang telah diraih antara lain: juara V Olimpiade Astronomi se-SMA Negeri 1 Trenggalek tahun 2006, juara V Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMA Tingkat Kabupaten tahun 2006, juara III Olimpiade Astronomi se-SMA Negeri 1 Trenggalek tahun 2007, juara IV Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMA Tingkat Kabupaten tahun 2007. Selain itu, dengan memperoleh peringkat lima besar dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMA Tingkat Kabupaten tahun 2006 dan 2007, maka sebanyak dua kali berturut-turut (tahun 2006 dan 2007) lolos untuk mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMA Tingkat Provinsi.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus